Oleh: Hedri Wahyudi | April 25, 2009

TRAGEDI CINTA DUA NEGARA

Masih tersimpan diingatan kasus-kasus kekerasan dan pelecehan yang menimpa para tenaga kerja Indonesia diluar negeri, kasus kematian David, Mahasiswa NTU asal Indonesia yang diduga dibunuh, hadir lagi kasus yang melibatkan warga negara Indonesia di Luar Negeri. Hari Jumat, 24 April 2009, TV ONE dalam program acara Apa Kabar Indonesia Pagi menghadirkan Ibu Daisy Fajarina, orang tua dari Manohara Adelia Pinot, model cantik asal indonesia yang menikah dengan Tengku Muhammad Fakhry, Pangeran Kerajaan Kelantan di Malaysia. Dalam acara tersebut disebutkan bahwa Manohara mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Ternyata bukan hanya kaset/ CD lagu-lagu indonesia saja yang dilarang masuk ke negara Malaysia tersebut, Ibunda dari Manohara tersebut juga menyebutkan bahwa dia dicekal di Malaysia. Bersama pengacaranya dia menunjukkan bukti bahwa dia dilarang memasuki wilayah Malaysia tanpa ada alasan yang signifikan dari pihak Malaysia.

Secara tidak sengaja (biasanya saya tidak suka acara-acara gosip selebriti) di hari yang sama saya mendengarkan acara pengakuan Ibu dari Manohara dalam program acara Silet RCTI, disana disebutkan bahwa saat menstruasi pun Manohara dipaksa untuk ‘melayani’ suaminya. Informasi serupa juga dapat dilihat dibaca di Kompas Entertainment. Lebih dahsyat lagi pernyataan yang ada pada pada http://mylifemylearning.com, bahwasanya orang kesultanan kelantan menyebutkan artis indonesia bisa dibeli dengan uang. Barangkali semua informasi yang disebutkan tersebut belum tentu sepenuhnya benar sebagaimana adanya, hal ini karena eksklusifnya pihak kesultanan di Malaysia dan tidakbebasnya pers di Negara tersebut sehingga pemberitaan-pemberitaan yang ada belum berimbang dari dua pihak. Namun demikian, selama belum ada keterangan dari pihak kesultanan Kelantan menyangkut hal ini, untuk sementara saya menyimpulkan berita yang ada saat ini hampir benar adanya.

Hendaknya hal ini bukan hanya menjadi santapan empuk media informasi semata, namun juga kita semua dapat menjadikannya sebagai pelajaran agar hal-hal serupa tidak menimpa kita, keluarga kita, masyarakat kita, dan Bangsa Indonesia kedepan. Untuk itu tentu saja permasalahan ini tidak bisa dipandang dari satu sisi saja. Hal-hal apa saja yang terjadi sebelumnya juga patut disimak sehingga kita bisa memaknai suatu kejadian.

Pada tulisan di blog http://alfaridzy.wordpress.com disebutkan bahwa Manohara sebelum menikah terlebih dahulu telah melakukan zina dengan Tengku Muhammad Fakhry, putra dari Raja Kelantan Malaysia. “Saya merasa kecurian dan tertipu, setiap saya menjabat tangan Tengku dia bersumpah pada saya tidak akan melakukan hal-hal yg maksiat,” tutur Daisy berlinang air mata (http://alfaridzy.wordpress.com). Pelajaran yang dapat diambil bahwa setinggi apapun status sosial seseorang bukanlah jaminan bahwa ia luput dari peringatan Allah SWT dalam Alquran Surat Al Isro’ ayat 32. Anak perempuan merupakan tanggung jawab kedua orang tuanya hingga ia menikah. Jika anak tersebut telah menikah maka tanggung jawab kedua orang tuanya telah lepas dan digantikan oleh suaminya. Oleh karena itu, sampai anak (perempuan) tersebut menikah, orang tua mengemban amanah yang berat. Dalam suatu syair salah satu lagu daerah Riau disebutkan kurangnya kekhawatiran orang tua terhadap pergaulan anak perempuannya yang disimbolkan dalam kehidupan para penggembala ternak. Seorang pengembala lebih khawatir jika ternaknya tidak pulang kekandang dibandingkan anak perempuannya yang tidak pulang kerumah. Kalau binatang ternaknya tidak pulang kekandang maka pengembala akan mencarinya sehingga bisa kembali kekandangnya, namun jika anak perempuannya yang tidak pulang kerumah??

Mengutip isi dari Majalah Mutiara Amaly edisi ke-39, Allah SWT menjadikan wanita bersifat lembut dengan nisbah 9/10 malu dan 1/10 akal, sementara itu lelaki 9/10 akal dan 1/10 malu. Namun yang terjadi dimasa sekarang ini adalah wanita sudah tidak ada perasaan malu lagi dan lelaki juga sudah tidak menggunakan akal lagi sehingga merusak wanita pula. Salahkah slogan ‘pemuda harapan bangsa dan pemudi tiang negara’ sudah terkubur?

Disisi lain, kita lihat nasib warga-warga negara indonesia yang ada di luar negeri khususnya di Malaysia. Seberapa rendahnya martabat Indonesia dimata negara Malaysia? Sehingga mantan Pangkostrad Letjen (purn.) Prabowo Subianto saja mengaku sebagai orang Filiphina kepada sopir taksi ketika berada di Malaysia (Majalah Sabili No. 18 TH XVI 26 Maret 2009). Bahkan terdapat pernyataan yang sangat merendahkan harga diri bangsa Indonesia yang saya baca di http://mylifemylearning.com, berikut potongan kutipannya : “…..menarik simpati sebagian masyarakat Indonesia terutama adanya ‘cerita’ tentang sikap Putra Raja Kelantan tersebut yang menganggap Manohara yang notabene istrinya hanya sebagai salah satu ‘properti’nya. Dalam beberapa berita disebutkan, sang pangeran kelantan itu juga menyebut-nyebut semua artis indonesia dan apapun yang ada di indonesia bisa DIBELI…..”. Kenapa sampai bisa begitu? Benarkah artis Indonesia bisa dibeli? Jangankan Artis, pulau Indonesia saja bisa diambil. Belum lagi budaya daerah yang diklaim sebagai budaya mereka. Namun para artis Indonesia juga jangan hanya bisa menanggapi hal tersebut secara emosional. Buktikan kalau Artis Indonesia itu tidak bisa dibeli!!! Karena harga diri kami sebagai rakyat indonesia juga ikut tercoreng kalau memang benar Artis Indonesia itu bisa dibeli.

Dibalik semua itu, tentu saja hal tersebut tidak lepas dari para pemimpin dan para elit dinegeri ini. Dalam acara Secret Operation yang disiarkan Metro TV pertengahan april 2009 dikatakan oleh Pitut Soeharto bahwa orang-orang asing mengatakan bahwa elit-elit di Indonesia itu suka menipu rakyat dan rakyat Indonesia itu bodoh. Apakah hal ini juga menjadi salah satu penyebab rendahnya Indonesia dimata dunia? Semoga Pemimpin Indonesia yang akan datang dapat mengangkat harkat dan martabat Indonesia dimata dunia. Namun tentu saja hal itu harus juga diikuti oleh rakyatnya, minimal ikut mendoakan pemimpinnya agar bisa membuat Indonesia berharga dimata dunia.

Hal menarik juga menurut saya, disaat Manohara ini tersandung suatu kasus, hampir semua masyarakat yang tahu tentang hal itu akan berempati dan memberikan dukungan. Apalagi jika terkait dengan negara luar, rasa nasionalismepun bermunculan tanpa diminta. Namun berlaku jugakah hal tersebut sebaliknya? Dapatkah para selebritis Indonesia ini juga bisa peduli jika masyarakat/ rakyat Indonesia yang tertimpa musibah?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: