Oleh: Hedri Wahyudi | Desember 14, 2007

Teruntuk Yang Kami Cintai Bapak Presiden Indonesia di Bumi Allah

PAK PRESIDEN, JANGAN NUNGGU PENSIUN BARU HENDAK BERBUAT SUNGGUH-SUNGGUH UNTUK ISLAM SEKARANG PAK…SEKARANG…

 

Bapak presiden…

Siapa yang tidak mengenal Umar Ibn Khattab? Sahabat mulia Rasulullah SAW. Sahabat mulia Rasulullah SAW. Dengan ketegasannya menjalankan perintah Islam, ia dijuluki Al-Faruq, sang Pembeda. Dia tegas dan jelas membedakan antara yang haq dan bathil. Rasulullah SAW bersabda, setanpun lari ketika bertemu Umar Ibn Khattab.

Dalam do’a Rasulullah di awal da’wah Islam di kota Makkah, Rasulullah SAW pernah berdo’a, “Ya Allah, kuatkanlah agamaMu ini dengan salah satu di antara 2 umar”.

Akhirnya hidayah Allah diberikan kepada Umar ibn Khattab, ketika alunan ayat suci At-Thaha yang dibacakan adik perempuannya meluluhlantakkan hatinya, menggetarkan tangannya yang telah menghunus pedang untuk membunuh siapa saja yang ber-Islam. “Dimana Muhammad?” gertaknya kepada adiknya, kemudian Umar dengan pedang terhunus menemui Sang Rasul, bersimpuh dihadapannya, lunglai tak berdaya, sinar Islam telah menghujam hatinya.

Pejuang besar telah hadir di tengah para sahahat Rasul, Umar ibn Khattab. Dia berikan seluruh jiwa dan raga untuk berjuang bersama orang yang sangat dicintainya, Rasulullah SAW. Pribadi yang keras sebelum Islam, kini tegas menjalankan perintah agama. Berlomba berbuat kebaikan bersama para sahabat lainnya, tiada hari tanpa kebaikan, tiada hari tanpa duduk melingkar bersama Sang Rasul mengkaji Al-Islam, tiada hari tanpa bersujud kepada Sang Khaliq.

Suatu ketika Rasul bertanya kepada Umar sebelum berangkat dalam sebuah peperangan, “Apa yang kamu berikan wahai Umar untuk perjuangan ini?”, “Jiwa dan separuh hartaku ya Rasul” sahut Umar.”Lalu apa yang kau sisakan untuk keluargamu?” Rasul bertanya, “Separuh hartaku ya Rasul”. Rasulullah SAW tersenyum melihat semangat Umar.

Kemudian Rasul bertanya kepada Abu Bakar, “Apa yang kau siapkan untuk perjuangan ini ya Abu Bakar?”,”Seluruh harta dan jiwaku” jawabnya. “Apa yang kau sisakan di rumahmu?” tanya Rasul, Abu Bakar menjawab, “Cukuplah bagiku Allah dan Rasul-Nya”.

Pak Presiden, [“Apa yang kamu berikan wahai Umar untuk perjuangan ini?”, “Jiwa dan separuh hartaku ya Rasul” sahut Umar.”]. Jika Pak Presiden ingin berbuat untuk Islam, sekaranglah Pak Presiden saatnya. Jangan nanti setelah tidak jadi presiden, tak ada kuasa dan jabatan baru hendak bicara Islam. Sekarang Pak… sekarang…! Sampaikan pesanku walaupun satu ayat.

 

 

 

Sumber : Mutiara Amaly Volume 32


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: