Oleh: Hedri Wahyudi | Desember 14, 2007

PENGALAMAN PERTAMA NAIK INDONESIA AIR ASIA

 

Seingatku waktu itu selasa, 22 Mei 2007 sekitar pukul 17.00 WIB aku ke bandara Sutan Syarif Qasim II. Disana akulangsung menuji counter Air Asia untuk menanyakan tiket ketersediaan kursi pesawat untuk hari Kamis, 24 Mei 2007 tujuan Jakarta (dari Pekanbaru). Akhirnya aku mendapatkan tiket Air Asia untuk keberangkatan dari Pekanbaru menuju Jakarta pada hari Kamis, 24 Mei 2007 jam 08.15 dengan harga yang lebih mahal dari harga tiket standard Air Asia dengan rute yang sama jika pembelian tiket dilakukan via internet jauh-jauh hari sebelumnya. Tapi dibanding harga tiket maskapai lainnya aku lebih memilih Air Asia. Aku tidak tahu kenapa hatiku lebih memilih maskapai yang satu ini. Aku pikir waktu itu Air Asia sebuah maskapai yang tergolong baru dibanding maskapai lainnya. Logika saya waktu itu, armada pesawatnya akan lebih baru dari maskapai lainnya (kecuali Garuda). Karena untuk beli tiket Garuda rasanya sudah tidak mungkin, aku lebih memilih Air Asia.

Kamis, 24 Mei 2007 aku telah berada di Bandara Sutan Syarif Qasim Check In dan mulai memasuki pesawat. Cuaca cukup cerah waktu itu. Hal ini sedikit mengurangi kecemasanku naik pesawat. Maklum berita-berita tentang kecelakaan pesawat sebelumnya semakin membuat hati cemas jika harus bepergian menggunakan pesawat. Aku belum punya sedikit gambaran waktu dari terminal penumpang melangkah menuju pesawat akan memilih tempat duduk dimana. Sewaktu memasuki pintu pesawat, aku langsung diarahkan oleh pramugari untuk duduk di deretan kursi paling depan bagian tengah yang masih kosong waktu, “Sendiri ya? Disini aja.” Kata Pramugari Air Asia dengan pakaian yang serba merah sambil menunjuk kursi yang dimaksud. Akhirnya aku duduk dan mematikan HP ku yang masih hidup waktu itu. Tak kusangka sewaktu itu Pramugari tersebut langsung marah kepadaku sambil mengingatkan bahwa pesawat sedang melakukan pengisian bahan bakar. Terdapat beberapa kesan dihati saya setelah dia marah-marah. Pramugarinya bisa marah ya? Biasanya seorang Pramugari orientasinya kepada pelayanan dan service yang memuaskan. Saya langsung menilai, maskapai murah, gaji karyawannya juga murah atau karena lantai pesawat dan baju yang dikenakannya berwarna merah? He..he.. Selama ini saya menduga, Pramugari dan para kru pesawat Air Asia itu adalah orang Malaysia. Tapi sewaktu dia marah tadi, saya dengar logat melayunya tidak kelihatan. Ada kebanggaan di hati saya bahwa tenaga kerja yang diambil untuk Perusahaan tersebut bukan orang malaysia, tapi orang Indonesia. Sewaktu dia marah, saya bukannya dongkol atau balas memarahi. Tapi saya bangga Pramugari tersebut ‘sense of safety’ nya cukup tinggi.

Tidak terlalu lama saya duduk, pintu pesawat ditutup. Saya bersama dua orang dikiri dan kanan saya dimintai kesediaan oleh Pramugari untuk membuka pintu darurat jika pesawat dalam keadaan darurat dan dia tidak bisa menjalankan tugasnya. Kami bertiga menyatakan bersedia. Selanjutnya Pramugari tersebut melakukan peragaan cara membuka pintu darurat kepada kami bertiga. Setelah itu pesawat masih belum bergerek, bahkan direm. Saya mulai cemas, jangan-jangan ada yang tidak beres. Ternyata pesawat menunggu izin dari ATS untuk take off, karena ada pesawat Riau Airline yang landing. Selanjutnya pramugari tadi siap-siap mengambil posisi duduk mengantisipasi pesawat take off nanti. Hal yang cukup menegangkan sekaligus menambah kecemasan saya, disaat pesawat mengambil landasan untuk take off. Tiba-tiba dideratan belakang kursi saya (deretan kedua) bagian kanan, ada salah seorang penumpang yang belum mematikan hp. Ketahuannya karena ada panggilan masuk dan dia melakukan pembicaraan. Hal ini membuat Pramugari tadi marah besar. Melalui pengeras suara dia memerintahkan penumpang tersebut untuk mematikan hp. Jika tidak dia mengancam akan meminta pilot untuk kembalikan pesawat ke apron. Apa karena tiketnya murah, penumpang yang naik juga kolot? Kalau terjadi sesuatu langsung menyalahkan maskapai? Apakah orang desa itu kolot? Atau yang penampilannya yang necis itu pemikirannya juga modern? Atau yang banyak uang, tinggal di kota, memiliki banyak uang itu modern? Saya lihat penumpang tersebut bukan orang dari desa, punya banyak uang, dan penampilan necis. Sebaiknya mungkin sebelum menaiki pesawat, para penumpang diberitahu dulu bagaimana bahaya penggunaan hp didalam pesawat terhadap penerbangan. Atau para penumpang yang memiliki hp, hpnya dititipin dulu kepada kru pesawat, baru setelah turun diberikan lagi. Karena sewaktu pesawat baru landing, banyak diantara penumpang yang telah berhp ria didalam pesawat, sementara, pesawat masih membutuhkan komunikasi bebas gangguan sampai tiba di appron. Saya salut dengan Pramugari tersebut waktu itu.

Akhirnya pesawat take off dari bandara dengan mulus. Terlihat dengan jelas oleh saya pramugari tadi yang duduk persis didepan saya menghadap kebelakang. Mulutnya terlihat berkomat-kamit, berdoa kali ya? Sekilas wajahnya kelihatan tegang. Aku sangka karena sudah biasa, pramugari tersebut tidak akan tegang lagi untuk terbang. Tapi dugaan saya lain. Baru setelah berhasil mencapai ketinggian yang normal, saya agak sedikit tenang. Sekali-sekali saya melihat keluar, karena posisi saya ditengah, jadi tidak begitu bebas lihat kejendela. Kadang-kadang pesawat melintasi sungai. Terlihat pesawat mendekat kearah laut, lalu menjauh lagi. Pesawat menyusuri pantai timur sumatera kali ya. Cukup lama dan membosankan dalam suasana seperti ini. Kulihat jam tangan penumpang disebelahku, berharap waktu telah menunjukkan pukul 10.00 yang berarti penerbangan telah memakan waktu 1,5 jam. Tapi ternyata, jam tangan penumpang tersebut menunjukkan waktu pukul 09.30. Kok rasanya sudah lama sekali saya duduk dalam pesawat ini.

Telinga saya nyaring sekali mendengar suara mesin atau apa saja yang agak lain. Saya mendengar ada bagian bunyi mesin yang menghilang(tidak terdengar lagi). Kemudian terasa pesawat tidak bertenaga, rasanya pesawat menurun. Namun saya tidak bisa memastikannya karena saya duduk didepan, tidak seperti kalau duduk dibelakang, bisa merasakan dan melihat bagian depan. Tidak lama setelah itu terlihatlah lampu split belt menyala, yang berarti penumpang diminta mengenakan sabuk pengaman. Hatiku mulai bertanya-tanya, kenapa baru satu jam sudah diperintahkan pasang sabuk pengaman? Kemudian bagian bunyi mesin yang menghilang tadi muncul lagi. Terasa pesawat menekan keatas, naik. Jangan-jangan mau mendarat darurat. Dugaanku tadi diperkuat dengan nampaknya garis pantai. Kamipun diatas permukaan laut ketika itu. Saya mulai siap-siap dan berfikir, kalau mendarat darurat dilaut, apa yang harus saya lakukan. Kemudian hatiku mulai sedikit tenang ketika pramugari mengumumkan pesawat akan sampai dan landing di Bandara Soekarno-Hatta (Cengkareng). Mungkin laut tadi selat sunda kali ya. Namun setelah itu pesawat memasuki cuaca buruk. Langit yang tadinya cerah, berubah menjadi gumpalan-gumpalan hitam. Pesawat memasuki awan-awan hitam tersebut. Terasa sekali laju pesawat terhambat oleh awan-awan tersebut. Aku lihat jendela disamping, hitam. Tidak bisa melihat kemanapun. Pesawat beberapa kali goyang dan terasa ada dorongan dan terdengar bunyi mesin pesawat mengeras. Namun pesawat segera lepas dari cuaca tersebut. Walau Cuma sebentar namun cukup memacu adrenalin. Setelah itu cuaca kembali cerah dan kelihatan kelihatan bukit disebelah kanan. Aku menduga itu adalah Gunung Salak. Tak lama setelah itu pesawat melakukan landing. Mulus sekali terasa. Mungkin karena aku duduk didepan. Terasa seperti mobil yang sedang melewati jalan bergelombang setelah pesawat landing menuju appron. Kondisi landasan di Cengkareng mungkin tidak rata. Setelah pesawat berhasil landing, pramugari menjelaskan penerbangan lebih cepat 15 menit dari biasa. Kalau diberikan kesempatan bertanya, saya akan mengajukan pertanyaan (seperti seminar aja), kok bisa? Karena cuaca atau karena pilotnya? Senang sekali hatiku ketika pesawat telah berjalan menuju appron. Setelah pintu dibuka, sayapun turun dan mengambil bagasi. Sambil ke menuju tempat pengambilan bagasi, saya baru menghidupkan hp dan memberitahukan kepada orang tua dan teman-teman bahwa saya telah sampai di Cengkareng dengan selamat. Setelah sampai di bagasi, saya mengambil tas. Tapi saya tidak diperiksa sedikitpun sewaktu mengambil bagasi. Seandainya saya mengambil tas penumpang lain yang masih dibelakang waktu itu, mungkin tidak akan ketahuan. Karena tidak ada petugas yang memeriksa bagasi. Apakah memang seperti itu layanan Air Asia di Cengkareng?

Demikian pengalaman saya pertama naik Air Asia. Lain waktu saya akan menulis pengalaman naik Garuda Indonesia Airlines.

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: