<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Hedriwahyudi's Weblog &#187; Renungan Menjelang Hari Ibu</title>
	<atom:link href="http://hedriwahyudi.wordpress.com/category/renungan-menjelang-hari-ibu/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hedriwahyudi.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Tue, 12 May 2009 04:02:16 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='hedriwahyudi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/243ef2bae7188f5d99c9c03835737474?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Hedriwahyudi's Weblog &#187; Renungan Menjelang Hari Ibu</title>
		<link>http://hedriwahyudi.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>SAYA KIRA WAKTU ITU IBU TIDAK PEDULI</title>
		<link>http://hedriwahyudi.wordpress.com/2007/12/15/saya-kira-waktu-itu-ibu-tidak-peduli/</link>
		<comments>http://hedriwahyudi.wordpress.com/2007/12/15/saya-kira-waktu-itu-ibu-tidak-peduli/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Dec 2007 15:18:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hedriwahyudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan Menjelang Hari Ibu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hedriwahyudi.wordpress.com/2007/12/15/saya-kira-waktu-itu-ibu-tidak-peduli/</guid>
		<description><![CDATA[ Ibu kembali ke rahmatullah ketika berusia 27 tahun. Terlalu muda sebenarnya untuk seorang Ibu berpisah dengan 5 orang anaknya yang masih kecil dan amat memerlukan kasih sayangnya.
Dia menghembuskan nafasnya setelah melahirkan adik bungsu saya yang juga turut menyusulnya tiga tahun kemudian. Saya baru berusia 10 tahun ketika itu.

Pada usia 7 tahun, saya dimasukkan ke [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hedriwahyudi.wordpress.com&blog=2300328&post=18&subd=hedriwahyudi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"> Ibu kembali ke rahmatullah ketika berusia 27 tahun. Terlalu muda sebenarnya untuk seorang Ibu berpisah dengan 5 orang anaknya yang masih kecil dan amat memerlukan kasih sayangnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Dia menghembuskan nafasnya setelah melahirkan adik bungsu saya yang juga turut menyusulnya tiga tahun kemudian. Saya baru berusia 10 tahun ketika itu.</p>
<p><span id="more-18"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Pada usia 7 tahun, saya dimasukkan ke sekolah sama seperti kanak-kanak lain. Setelah kira-kira 3 bulan, sekolah menilai saya tidak mampu mengikuti pelajaran. Akhirnya saya dimasukkan ke sebuah sekolah khusus untuk anak-anak cacat penglihatan. Saya terpaksa tinggal di asrama sekolah tersebut. Masa liburan sajalah baru saya berpeluang balik dan bermesra dengan keluarga.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Dalam waktu yang serba terbatas itu, ibu telah berusaha mengajarkan saya akan kehidupan ini. Meskipun saya cacat, dia tidak pernah menunjukkan sikap diskriminasi terhadap saya. Sebenarnya, ketika itu, hanya seorang saja adik saya yang dikurniakan penglihatan yang sempurna.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Yang lainnya, (kami bertiga), mempunyai masalah penglihatan. Tak dapat saya bayangkan betapa deritanya dia membesarkan kami. Disamping terpaksa bersusah payah di rumah, dia juga terpaksa menghadapi pandangan dan kata-kata orang kampung. Tapi dia tetap tabah dan senantiasa riang mesra bersama kami.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Pada waktu itu, kalau dapat makan lauk ayam, memanglah sungguh sedap. Kami agak bernasib baik karena ayam tak perlu beli. Kalau mau makan ayam, Cuma perlu tangkap saja. Ayah akan sembelih sebelum pergi kerja dan ibu akan memprosesnya dari mencabut bulunya hinggalah ayam itu siap dimasak.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Yang saya suka pada waktu itu ialah hati ayam. Suatu hari, saya bertanya kepada ibu bagaimana rupanya bentuk hati ayam sebelum dimasak. Ibu hanya diam saja.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Beberapa hari berikutnya, ayah sembelih ayam lagi. Sementara ibu memproses ayam tersebut, saya dan adik-adik bermain dibelakang rumah. Tiba-tiba ibu memanggil saya. Saya bertanya sambil bergegas menuju ke tangga dapur.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">“Kemaren, kamu bilang ingin tengok hati ayam sebelum dimasak! Inilah dia!”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Ibu menghulurkan hati ayam yang sudah siap dibersihkan ke tangan saya. Terharu sungguh saya. Saya kira waktu itu Ibu tak peduli dengan keinginan saya itu. Selepas meraba hari ayam itu sepuas-puasnya, saya menghulurkannya kembali kepada ibu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Begitulah ibu. Dia senantiasa berusaha memenuhi apa saja kehendak anak-anaknya terutama makanan. Sebut saja ingin makan apa. Dia akan berusaha menyediakannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Namun, apalah daya kita untuk menahan takdir dan ketentuan Allah. Bila dah sampai masanya, kita semua tetap akan pergi menemui-Nya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Kepada yang masih mempunyai Ibu, jagalah Ibu baik-baik. Buat dia senantiasa gembira bersama kita semasa hayatnya masih ada.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sumber : <span style="color:blue;">Mutiara Amaly</span><sup><span style="color:red;">Penyejuk Jiwa Penyubur Iman</span></sup><span>  </span><span style="color:#ff6600;">Volume </span>19</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hedriwahyudi.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hedriwahyudi.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hedriwahyudi.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hedriwahyudi.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hedriwahyudi.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hedriwahyudi.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hedriwahyudi.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hedriwahyudi.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hedriwahyudi.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hedriwahyudi.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hedriwahyudi.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hedriwahyudi.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hedriwahyudi.wordpress.com&blog=2300328&post=18&subd=hedriwahyudi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hedriwahyudi.wordpress.com/2007/12/15/saya-kira-waktu-itu-ibu-tidak-peduli/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6c01a20e9220d6160dd561b27e8d804d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hedri</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BAGAI SANG SURYA</title>
		<link>http://hedriwahyudi.wordpress.com/2007/12/15/bagai-sang-surya/</link>
		<comments>http://hedriwahyudi.wordpress.com/2007/12/15/bagai-sang-surya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Dec 2007 14:48:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hedriwahyudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan Menjelang Hari Ibu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hedriwahyudi.wordpress.com/2007/12/15/bagai-sang-surya/</guid>
		<description><![CDATA[Selalu Memberi Tak Harap Kembali
 
&#160;
“Perawat, boleh saya tengok bayi saya?” ibu muda yang baru bersalin itu bersuara antara dengan dan tidak kepada seorang jururawat.
            Sambil tersenyum jururawat itu membawakan bayi yang masih merah itu. Si Ibu menyambut dengan senyum tertahan. Dibuka selimut yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hedriwahyudi.wordpress.com&blog=2300328&post=17&subd=hedriwahyudi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="font-family:'Trebuchet MS';color:#00ccff;">Selalu Memberi Tak Harap Kembali</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="color:lime;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">“Perawat, boleh saya tengok bayi saya?” ibu muda yang baru bersalin itu bersuara antara dengan dan tidak kepada seorang jururawat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>            </span>Sambil tersenyum jururawat itu membawakan bayi yang masih merah itu. Si Ibu menyambut dengan senyum tertahan. Dibuka selimut yang menutup wajah manis itu, diciumnya berkali-kali begitu bayi tersebut berada di pangkuan.</p>
<p><span id="more-17"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>            </span>Jururawat kemudian mengalihkan pandangannya keluar tingkap. Tidak sanggup dia bertatapan mata dengan si Ibu yang terperanjat melihat bayinya dilahirkan tanpa kedua daun telinga.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>            </span>Namun terkejutnya cuma seketika. Dekapan dan ciuman silih berganti sehingga bayi yang sedang lena itu merengek. Dokter meyakinkan bahwa pendengaran bayi itu normal, sesuatu yang cukup menggembirakan si Ibu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b>Masa Terus Berlalu…</b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>            </span>Pulang dari sekolah suatu tengah hari, anak yang tiada daun telinga itu yang kini telah memasuki alam persekolahan menangis memberitahu bagaimana dia diajak rekan-rekan. “Mereka bilang saya cacat,” katanya kepada si Ibu. Si Ibu menahan sesak. Dibujuknya si anak dengan pelbagai kata semangat. Si anak menerimanya dan dia menjadi pelajar cemerlang dengan menyandang pelbagai kepengurusan di sekolah. Bagaimanapun tanpa daun telinga, si anak tetap merasa rendah diri. Walaupun si Ibu terus memujuk. Ayah anak itu menemui dokter. “Saya yakin dapat melakukannya jika ada penderma,” kata pakar bedah. Bermulalah suatu pencarian bagi mencari penderma yang sanggup berkorban.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b>Setahun Berlalu…</b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>            </span>“Anakku, kita akan menemui dokter ujung minggu ini. Ibu dan Ayah telah mendapatkan seorang penderma, tapi dia mau dirinya dirahasiakan,” kata si Ayah. Pembedahan berjalan lancar dan akhirnya si anak meuncul sebagai manusia baru, pandai serta bijak. Pelajarannya tambah cemerlang dan rasa rendah diri yang kerap dialaminya hilang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>            </span>Rekan-rekan memuji kecantikan parasnya. Si anak cukup gembira, bagaimanapun dia tidak mengabaikan pelajaran. Pada usianya lewat 20-an, si anak menduduki jabatan tinggi dalam bidang diplomatik.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>            </span>“Sebelum saya berangkat keluar negara, saya ingin tahu siapakah penderma telinga ini, saya ingin membalas jasanya,” kata si anak berkali-kali.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>            </span>“Tak mungkin,” balas si Ayah. “Perjanjian antara Ayah dengan penderma itu masih berjalan. Tunggulah, masanya akan tiba.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>            </span>“Kapan?” tanya si anak.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>            </span>“Akan tiba masanya anakku,” balas si Ayah sambil Ibunya mengangguk-angguk. Keadaan terus berlalu menjadi rahasia bertahun-tahun lamanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b>Hari yang Ditunggu Tiba Akhirnya..</b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>            </span>Ketika sia anak berdiri disisi keranda Ibunya, perlahan-lahan si Ayah menyelak rambut Ibunya yang kaku.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>            </span>“Ibumu tidak pernah memotong pendek rambutnya,” si Ayah berbisik ke telinga anaknya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>            </span>Gelap seketika pandangan si anak ketika melihat kedua daun telinga Ibunya tiada.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>            </span>“Tetapi tiada siapapun pernah mengatakan Ibumu cacat, dia tetap cantik,, pada Ayah dia satu-satunya wanita paling cantik yang pernah Ayah temui.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">***</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Selagi Ibu kita didunia ini, curahkanlah ketaatan dan penghormatan sepenuh kasih sayang kepadanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dikutip dari : <span style="color:blue;">Mutiara Amaly</span><sup><span style="color:red;">Penyejuk Jiwa Penyubur Iman</span></sup><span>  </span><span style="color:#ff6600;">Volume </span>19</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hedriwahyudi.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hedriwahyudi.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hedriwahyudi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hedriwahyudi.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hedriwahyudi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hedriwahyudi.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hedriwahyudi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hedriwahyudi.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hedriwahyudi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hedriwahyudi.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hedriwahyudi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hedriwahyudi.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hedriwahyudi.wordpress.com&blog=2300328&post=17&subd=hedriwahyudi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hedriwahyudi.wordpress.com/2007/12/15/bagai-sang-surya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6c01a20e9220d6160dd561b27e8d804d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hedri</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>